Pada
dasarnya, manusia adalah makhluk sosial. Tak dapat dipungkiri bahwa mereka
membutuhkan sesamanya untuk hidup. Di dalam kehidupan, mereka tidak bisa hanya
mengandalkan kemampuan diri dan mengeluarkan potensi terbaiknya. Mereka juga
butuh orang-orang yang dapat mendorong, menularkan inspirasi, dan membersamai
dalam proses tersebut. Tak terkecuali bagi para penulis.
Penulis
menuangkan pikirannya dengan cara berbeda dari orang kebanyakan. Mereka tahu,
menggunakan lisan untuk menyalurkan buah pikir tidak selalu didengar, bahkan
dianggap angin lalu bagi sebagian orang. Namun, penggunaan tulisan juga tidak
selalu menjanjikan hasil yang lebih baik. Tapi setidaknya, sembari orang-orang
membaca tulisan, secara bersamaan mereka juga akan mendengar dan mengerti jalan
pikiran si penulis.
Beruntungnya
bagi sang penulis, apabila ia dipertemukan dengan orang-orang yang mempunyai
kesukaan dan kecenderungan yang sama. Memang, jalan Tuhan selalu tidak dapat diduga.
Tergabung dalam suatu komunitas mestinya dapat berdampak pada si penulis itu
sendiri, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Secara
langsung, sebagai individu, si penulis merasa ia tidak sendirian dalam
berkarya. Kepercayaan diri mulai tumbuh. Anggota-anggota komunitas dapat
menjadi pemantik ampuh apabila semangat saat ‘berjuang’ mulai redup.
Kebersamaan yang dihasilkan dapat memacu si penulis untuk terus berkembang
dengan semangat yang sama, bahkan lebih besar. Saya jadi teringat sebuah
pepatah, “Jika kau ingin berjalan cepat, maka berjalanlah sendiri. Tapi jika
kau ingin berjalan jauh, maka berjalanlah bersama-sama.” Pepatah tersebut
menyiratkan bahwa kebersamaan dapat berdampak terhadap cara pandang seseorang. Ia
mampu berjalan cepat, karena ia hanya akan terfokus pada dirinya sendiri. Pun
ketika dapat mencapai tujuan, kebahagiaannya hanya milik ia seorang.
Hal ini
tentu berbeda dengan seseorang yang berjalan beriringan dengan orang-orang
lain. Awalnya, agak sulit memang untuk beradaptasi di lingkungan yang baru. Kebersamaan
membuat mereka menyadari, bahwa kemampuan dan ketahanan dalam mengatasi
rintangan berbeda-beda. Kebersamaan mengajarkan mereka tentang arti kesabaran. Saling
mengingatkan, menguatkan, dan memberi semangat mendorong masing-masing individu
untuk terpacu mencapai tujuan yang diinginkan. Tidak hanya satu, bahkan
dimungkinkan untuk mencapai beberapa tujuan sekaligus. Kepuasan batin yang
tidak hanya menjadi milik pribadi serta adanya orang-orang untuk berbagi atas
berbagai pencapaian menjadi anugerah tersendiri bagi orang-orang yang tergabung
dalam komunitas.
Secara tidak
langsung, penulis mampu memperbaiki kualitas tulisannya dari hari ke hari, dari
hati ke hati. Dengan berbagi ilmu dan berdiskusi antar anggota komunitas,
penulis bisa mendapat ide-ide segar serta melihat sesuatu dengan sudut pandang
yang lain. Pemahaman tak hanya melulu dimengerti oleh akal, tapi juga nurani.
Seorang penulis dapat memperbaiki tulisannya dengan kritik dan saran yang telah
diperoleh. Dengan demikian, ia membuktikan bahwa dalam berproses, tentu mengharuskan
usaha-usaha lebih harus dilakukan demi mencapai yang terbaik, meskipun ukuran
‘terbaik’ itu sendiri masih belum sepenuhnya jelas. Selain itu, dengan melakukan
hal tersebut, secara tidak langsung si penulis juga telah mempertimbangkan
perasaan si pemberi masukan. Melihat kritik dan sarannya telah berkontribusi
dalam sebuah karya, tentu ia akan merasa bahwa ilmunya tidak hanya bermanfaat
untuk dirinya sendiri, namun juga kepada sesamanya. Relasi-relasi baru dengan
orang-orang penuh inspirasi akhirnya dapat terjalin. Hal ini tentu sulit
dipahami apabila pembelajaran atau peningkatan kualitas tulisan hanya dilakukan
secara otodidak. Seseorang mungkin bisa belajar mandiri, misal dengan membaca
buku “Kiat-kiat Menulis Ampuh Cepat”, kemudian mengaplikasikannya dalam proses
belajar. Namun, pasti ada perbedaan yang dirasakan orang tersebut antara
belajar dan bertanya langsung dengan orang-orang yang mahir di bidangnya,
dengan belajar sendiri melalui media.
Begitulah.
Bergabung dengan komunitas tentu mempunyai nilai lebih ketimbang belajar
sendiri dalam suatu bidang. Anggota-anggota komunitas dapat saling membantu,
saling memperkuat, dan saling membersamai demi menggapai tujuan pribadi maupun
bersama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar