Kamis, 16 November 2017

Media, Literasi, dan Sobat

Dewasa ini, kita tidak bisa menghindari yang namanya globalisasi. Globalisasi berpengaruh hampir di semua aspek kehidupan. Ilmu pengetahuan menjadi semakin berkembang. Teknologi semakin canggih. Era semacam ini membuat dunia seakan tanpa sekat.  

Zaman dahulu, orang-orang berkomunikasi harus bertatap muka. Kemudian, munculah surat sebagai media menyampaikan pesan. Namun, pesan yang dibawa dapat sampai ke tujuan memakan waktu berhari-hari, bahkan berbulan-bulan lamanya. Lalu, munculah telepon yang digunakan untuk menyampaikan pesan secara cepat dan murah. Seiring kemajuan zaman, jadilah telepon seperti sekarang ini dengan berbagai fitur dan keunggulannya.

Dalam perkembangannya, media tidak hanya menjembatani komunikasi perorangan. Media juga digunakan sebagai pemenuh kebutuhan akan informasi dan fantasi untuk khalayak. Maka jadilah media masa. Media masa bisa berupa media cetak seperti koran dan majalah, bisa juga berupa media elektronik dan digital seperti televisi dan internet.

Sayangnya, akhir-akhir ini, media masa telah menjalani peranannya yang lain. Media masa tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan publik akan informasi, namun lebih kepada menunjukkan  idealisme atau tujuan tertentu si ‘pemilik perusahaan’ media itu sendiri. Hal ini sangat disayangkan, mengingat sebagian besar masyarakat masih belum dapat memilah dan memilih sejauh mana informasi yang disajikan media itu benar, khususnya media sosial. Akibatnya, banyak konsumen media yang termakan kabar ‘hoax’.

Oleh karena itu, kesadaran masyarakat akan literasi sudah seharusnya perlu ditingkatkan. Masyarakat dapat diajak  untuk menggiatkan literasi yang paling dasar, yakni mulai menaruh minat di bidang baca tulis. Hal inilah yang sedang dilakukan oleh komunitas pegiat literasi, salah satunya Komunitas Soto Babat. Anggota SOBAT tak cukup diajak hanya sekadar melek baca tulis, tapi juga harus mampu berpikir kritis. Berpikir kritis tentunya membutuhkan tingginya daya analisis dan menunjukkan kepekaan terhadap sekitar dan sesama.  Namun dalam praktiknya, SOBAT terbentur satu pertanyaan; bagaimana mengintegrasikan literasi dan globalisasi?

Pada dasarnya, komunitas literasi sejenis SOBAT setia menjadikan media cetak sebagai sarana penyalur pikiran. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa arus globalisasi memberi dampak positif bagi ‘kelangsungan hidup’ komunitas. Bukankah pelatihan kelas online ini juga akibat dari globalisasi? Peserta seleksi tidak perlu repot-repot mengirim artikel via pos yang bisa memakan waktu berhari-hari. Cukup tinggal klik sekali, berkas sudah sampai di tangan panitia. Kemudahan lain, setelah resmi diterima sebagai peserta pelatihan, peserta juga tidak perlu kesulitan hadir di tempat; bertatap muka langsung dengan pemateri. Peserta dengan mudah mengirim karya via facebook dan langsung mendapat tanggapan dari pemateri; tanpa di-php oleh yang bersangkutan.


Selain itu, SOBAT bisa berkaca pada website “mojok.co” yang isinya berupa tulisan-tulisan penulis dan kontributor yang (sepertinya) juga penggelora gerakan literasi. Pembaca atau pengakses situs tersebut dapat berasal dari seluruh lapisan masyarakat. Setelah membaca satu artikel, misalnya, kemudian seseorang membagikan tautan pada laman atau sosial media milik pribadi, maka orang lain pun bisa turut membaca/ mengakses artikel tersebut. Hal ini merupakan contoh positif dan konkrit dalam menyatukan literasi dan globalisasi. Teman-teman SOBAT bisa mengadaptasi hal tersebut. Di samping itu, SOBAT juga tidak boleh mengesampingkan media cetak dan memberi perhatian lebih pada digitalisasi. Pasalnya, ada masyarakat yang masih memiliki keterbatasan mengenai teknologi. Hal ini tentu disayangkan mengingat gerakan literasi diharapkan terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar