Dewasa ini,
kita tidak bisa menghindari yang namanya globalisasi. Globalisasi berpengaruh
hampir di semua aspek kehidupan. Ilmu pengetahuan menjadi semakin berkembang. Teknologi
semakin canggih. Era semacam ini membuat dunia seakan tanpa sekat.
Zaman
dahulu, orang-orang berkomunikasi harus bertatap muka. Kemudian, munculah surat
sebagai media menyampaikan pesan. Namun, pesan yang dibawa dapat sampai ke
tujuan memakan waktu berhari-hari, bahkan berbulan-bulan lamanya. Lalu, munculah
telepon yang digunakan untuk menyampaikan pesan secara cepat dan murah. Seiring
kemajuan zaman, jadilah telepon seperti sekarang ini dengan berbagai fitur dan
keunggulannya.
Dalam
perkembangannya, media tidak hanya menjembatani komunikasi perorangan. Media juga
digunakan sebagai pemenuh kebutuhan akan informasi dan fantasi untuk khalayak.
Maka jadilah media masa. Media masa bisa berupa media cetak seperti koran dan
majalah, bisa juga berupa media elektronik dan digital seperti televisi dan
internet.
Sayangnya,
akhir-akhir ini, media masa telah menjalani peranannya yang lain. Media masa tidak
hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan publik akan informasi, namun lebih
kepada menunjukkan idealisme atau tujuan
tertentu si ‘pemilik perusahaan’ media itu sendiri. Hal ini sangat disayangkan,
mengingat sebagian besar masyarakat masih belum dapat memilah dan memilih
sejauh mana informasi yang disajikan media itu benar, khususnya media sosial.
Akibatnya, banyak konsumen media yang termakan kabar ‘hoax’.
Oleh karena
itu, kesadaran masyarakat akan literasi sudah seharusnya perlu ditingkatkan. Masyarakat
dapat diajak untuk menggiatkan literasi
yang paling dasar, yakni mulai menaruh minat di bidang baca tulis. Hal inilah
yang sedang dilakukan oleh komunitas pegiat literasi, salah satunya Komunitas
Soto Babat. Anggota SOBAT tak cukup diajak hanya sekadar melek baca tulis, tapi
juga harus mampu berpikir kritis. Berpikir kritis tentunya membutuhkan
tingginya daya analisis dan menunjukkan kepekaan terhadap sekitar dan sesama. Namun dalam praktiknya, SOBAT terbentur satu
pertanyaan; bagaimana mengintegrasikan literasi dan globalisasi?
Pada
dasarnya, komunitas literasi sejenis SOBAT setia menjadikan media cetak sebagai
sarana penyalur pikiran. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa arus
globalisasi memberi dampak positif bagi ‘kelangsungan hidup’ komunitas.
Bukankah pelatihan kelas online ini juga akibat dari globalisasi? Peserta
seleksi tidak perlu repot-repot mengirim artikel via pos yang bisa memakan
waktu berhari-hari. Cukup tinggal klik sekali, berkas sudah sampai di tangan
panitia. Kemudahan lain, setelah resmi diterima sebagai peserta pelatihan,
peserta juga tidak perlu kesulitan hadir di tempat; bertatap muka langsung
dengan pemateri. Peserta dengan mudah mengirim karya via facebook dan langsung
mendapat tanggapan dari pemateri; tanpa di-php oleh yang bersangkutan.
Selain itu,
SOBAT bisa berkaca pada website “mojok.co” yang isinya berupa tulisan-tulisan
penulis dan kontributor yang (sepertinya) juga penggelora gerakan literasi.
Pembaca atau pengakses situs tersebut dapat berasal dari seluruh lapisan
masyarakat. Setelah membaca satu artikel, misalnya, kemudian seseorang
membagikan tautan pada laman atau sosial media milik pribadi, maka orang lain
pun bisa turut membaca/ mengakses artikel tersebut. Hal ini merupakan contoh
positif dan konkrit dalam menyatukan literasi dan globalisasi. Teman-teman
SOBAT bisa mengadaptasi hal tersebut. Di samping itu, SOBAT juga tidak boleh
mengesampingkan media cetak dan memberi perhatian lebih pada digitalisasi.
Pasalnya, ada masyarakat yang masih memiliki keterbatasan mengenai teknologi.
Hal ini tentu disayangkan mengingat gerakan literasi diharapkan terjangkau oleh
seluruh lapisan masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar