Rabu, 22 November 2017

MENGURUTKAN GAGASAN DEMI KEBERHASILAN

Komunikasi merupakan proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan. Hal tersebut dapat dikatakan berhasil apabila komunikan mampu memahami pesan-pesan yang disampaikan. Proses keberhasilan komunikasi tergantung dari beberapa faktor. Salah satunya adalah cara komunikator menyampaikan pesan yang diinginkan.

Dalam berkomunikasi, seseorang tentu sudah memiliki gambaran mengenai apa saja yang ingin ia sampaikan. Begitu pula dengan menulis, yang termasuk salah satu jenis komunikasi verbal. Menulis merupakan aktivitas yang mungkin tidak terlalu membutuhkan kondisi fisik yang begitu prima, namun aktivitas ini lumayan cukup menguras pikiran. Hal-hal yang ingin dibagikan harus dirangkai dengan sedemikian rupa, sehingga si penerima tak kuasa menolak pemberian tersebut. Salah satu cara merangkai pesan-pesan itu ialah melalui bahasa.

Bahasa adalah logika. Dengan bahasa, kita menyusun teknik berpikir. Hasil yang diperoleh dari mempergunakan suatu teknik tersebut tentu tidak bisa lepas dari baik buruk penggunaan bahasa.  Hal-hal tersebut tercermin dalam sebuah struktur.

Cara berpikir seorang penulis tercermin dari tulisan yang dihasilkan; apakah itu benar-benar terstruktur, atau malah sebaliknya. Ide-ide cemerlang yang tidak disusun dengan baik, hanya akan menambah kebingungan semata. Lain halnya dengan gagasan-gagasan sederhana yang disusun secara apik dan sistematis yang tentu saja dapat dengan mudah dimengerti orang lain.
Sebagai seorang calon spesialis bahasa –jika melihat latar belakang studi yang sedang saya geluti saat ini– saya memandang logika dalam berbahasa tercermin dari kata-kata yang digunakan. Satu rangkaian kata tak hanya dapat membentuk satu persepsi, namun jumlah yang berkali-kali lipat. 
Dapat dibayangkan, ada berapa banyak rangkaian kata yang terdapat dalam suatu teks. Oleh karena itu, penggunaan EYD dan konjungsi yang tepat dapat meminimalisir kesalahpahaman atas kesalahan pembaca menafsirkan pesan yang disampaikan oleh penulis.

Selain kepatuhan terhadap EYD (misalnya mempertimbangkan susunan kalimat)dan penggunaan konjungsi yang sesuai, menulis juga memerlukan rasa. Hal ini menjadi krusial agar penulis tak hanya dapat menantang pembacanya untuk berpikir kritis, tapi juga harus dapat menyentuh hati. Menyentuh hati di sini bukan berarti bahasa yang digunakan harus berbunga-bunga, namun lebih kepada menunjukkan sisi ‘manusia’ si penulis. Pertanyaannya: bagaimana sisi ‘manusia’ itu bisa muncul?
Tuhan Yang Maha Baik mengaruniakan manusia dengan segala kelebihannya, hingga manusia bergelar “makhluk yang paling sempurna”. Setidak-tidaknya, manusia dididik berdasarkan 3H (Head, Heart, Hand). “Head” melambangkan akal, menunjukkan manusia harus punya intelektual tinggi. “Heart” melambangkan perasaan, yang membedakan manusia dengan mesin maupun mesin yang berbentuk manusia. “Hand” melambangkan kemampuan, merepresentasikan bahwa tiap manusia pasti mempunyai skill dan dapat bertindak sesuai kemampuannya.


Jika dikaitkan dengan literasi, 3H inilah yang seharusnya ada dalam sebuah tulisan. Sebuah tulisan, seharusnya memiliki unsur “Head”, yang dapat mendorong pembacanya untuk berpikir kritis dan analitis. Unsur lain yang seharusnya ada dalam tiap tulisan adalah “Heart”. Pembaca dapat diajak meresapi sebuah persoalan, merenungkannya, dan melihat bagaimana hal itu dapat berpengaruh pada dirinya dan orang lain. Pembaca juga bisa ikut merasakan hal yang sama dengan yang penulis rasakan. Sedangkan unsur “Hand” menunjukkan bahwa sebuah tulisan tak hanya berpengaruh pada nalar dan emosi semata. Tulisan seharusnya dapat turut menggerakkan para pembacanya. Pembaca diharap memberi respon langsung berupa tindakan atau aksi nyata terhadap persoalan yang dibahas. Tentunya, hal tersebut dilakukan melalui pertimbangan-pertimbangan yang matang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar