Komunikasi merupakan proses penyampaian pesan
dari komunikator kepada komunikan. Hal tersebut dapat dikatakan berhasil
apabila komunikan mampu memahami pesan-pesan yang disampaikan. Proses
keberhasilan komunikasi tergantung dari beberapa faktor. Salah satunya adalah
cara komunikator menyampaikan pesan yang diinginkan.
Dalam berkomunikasi, seseorang tentu sudah
memiliki gambaran mengenai apa saja yang ingin ia sampaikan. Begitu pula dengan
menulis, yang termasuk salah satu jenis komunikasi verbal. Menulis merupakan
aktivitas yang mungkin tidak terlalu membutuhkan kondisi fisik yang begitu
prima, namun aktivitas ini lumayan cukup menguras pikiran. Hal-hal yang ingin
dibagikan harus dirangkai dengan sedemikian rupa, sehingga si penerima tak
kuasa menolak pemberian tersebut. Salah satu cara merangkai pesan-pesan itu
ialah melalui bahasa.
Bahasa adalah logika. Dengan bahasa, kita
menyusun teknik berpikir. Hasil yang diperoleh dari mempergunakan suatu teknik
tersebut tentu tidak bisa lepas dari baik buruk penggunaan bahasa. Hal-hal tersebut tercermin dalam sebuah
struktur.
Cara berpikir seorang penulis tercermin dari tulisan
yang dihasilkan; apakah itu benar-benar terstruktur, atau malah sebaliknya.
Ide-ide cemerlang yang tidak disusun dengan baik, hanya akan menambah
kebingungan semata. Lain halnya dengan gagasan-gagasan sederhana yang disusun
secara apik dan sistematis yang tentu saja dapat dengan mudah dimengerti orang
lain.
Sebagai seorang calon spesialis bahasa –jika
melihat latar belakang studi yang sedang saya geluti saat ini– saya memandang
logika dalam berbahasa tercermin dari kata-kata yang digunakan. Satu rangkaian
kata tak hanya dapat membentuk satu persepsi, namun jumlah yang berkali-kali
lipat.
Dapat dibayangkan, ada berapa banyak rangkaian kata yang terdapat dalam
suatu teks. Oleh karena itu, penggunaan EYD dan konjungsi yang tepat dapat
meminimalisir kesalahpahaman atas kesalahan pembaca menafsirkan pesan yang
disampaikan oleh penulis.
Selain kepatuhan terhadap EYD (misalnya
mempertimbangkan susunan kalimat)dan penggunaan konjungsi yang sesuai, menulis
juga memerlukan rasa. Hal ini menjadi krusial agar penulis tak hanya dapat
menantang pembacanya untuk berpikir kritis, tapi juga harus dapat menyentuh
hati. Menyentuh hati di sini bukan berarti bahasa yang digunakan harus
berbunga-bunga, namun lebih kepada menunjukkan sisi ‘manusia’ si penulis. Pertanyaannya:
bagaimana sisi ‘manusia’ itu bisa muncul?
Tuhan Yang Maha Baik mengaruniakan manusia dengan segala kelebihannya,
hingga manusia bergelar “makhluk yang paling sempurna”. Setidak-tidaknya,
manusia dididik berdasarkan 3H (Head, Heart, Hand). “Head” melambangkan akal,
menunjukkan manusia harus punya intelektual tinggi. “Heart” melambangkan
perasaan, yang membedakan manusia dengan mesin maupun mesin yang berbentuk
manusia. “Hand” melambangkan kemampuan, merepresentasikan bahwa tiap manusia
pasti mempunyai skill dan dapat bertindak sesuai kemampuannya.
Jika dikaitkan dengan literasi, 3H inilah yang seharusnya ada dalam
sebuah tulisan. Sebuah tulisan, seharusnya memiliki unsur “Head”, yang dapat
mendorong pembacanya untuk berpikir kritis dan analitis. Unsur lain yang
seharusnya ada dalam tiap tulisan adalah “Heart”. Pembaca dapat diajak meresapi
sebuah persoalan, merenungkannya, dan melihat bagaimana hal itu dapat
berpengaruh pada dirinya dan orang lain. Pembaca juga bisa ikut merasakan hal
yang sama dengan yang penulis rasakan. Sedangkan unsur “Hand” menunjukkan bahwa
sebuah tulisan tak hanya berpengaruh pada nalar dan emosi semata. Tulisan
seharusnya dapat turut menggerakkan para pembacanya. Pembaca diharap memberi
respon langsung berupa tindakan atau aksi nyata terhadap persoalan yang
dibahas. Tentunya, hal tersebut dilakukan melalui pertimbangan-pertimbangan yang
matang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar