Jumat, 17 Oktober 2014

Fenomena Bahasa Alay Sebagai Upaya Menunjukan Identitas Diri

              Dalam ilmu linguistik, bahasa dapat diuraikan sebagai salah satu cara untuk mengidentifikasi diri. Bahasa merupakan simbol yang menunjukkan jati diri. Cara kita berbahasa dapat menampilkan gambaran mengenai jati diri kita yang sesungguhnya. Orang lain dapat menangkap kesan tersembunyi dari dalam diri kita masing-masing melalui cara kita cara berbahasa. Bila kita ingin terlihat baik dalam pandangan orang lain, maka seharusnya menggunakan bahasa yang baik. Tren kebahasaan yang buruk, meskipun sedang populer, tidak perlu menjadi ciri utama eksistensi kita dalam pergaulan.
             Dewasa ini, tingkat  penggunaan bahasa Indonesia dengan baik dan benar pada masyarakat terutama pada kalangan remaja secara perlahan mulai mengalami penurunan. Hal ini dikarenakan masa remaja merupakan masa transisi dan pencarian jati diri. “Remaja memasuki tahapan psikososial yang disebut sebagai identity versus role confusion. Hal yang dominan terjadi pada tahapan ini adalah pencarian dan pembentukan identitas. Remaja ingin diakui sebagai individu unik yang memiliki identitas sendiri yang terlepas dari dunia anak-anak maupun dewasa. Penggunaan bahasa baru  ini merupakan bagian dari proses perkembangan mereka sebagai identitas independensi mereka dari dunia orang dewasa dan anak-anak” (Erikson ,1968).


              Penggunaan bahasa baku pada kalangan remaja mengalami penurunan dikarenakan adanya  modifikasi bahasa, yang sering disebut dengan ‘bahasa alay’. Bahasa alay mulai muncul dan berkembang seiring dengan pesatnya penggunaan media komunikasi seperti pesan singkat atau SMS dan penggunaan jejaring sosial (facebook, twitter, dsb). Bahkan bukan hanya itu saja, bahasa alay juga banyak ditemukan di televisi, terutama pada hal-hal yang berkaitan langsung dengan remaja, misalnya acara-acara di televisi yang menjadi tontonan utama dan memang ditujukan kepada para remaja. Hal tersebut membuat penyebaran bahasa alay di kalangan remaja menjadi semakin pesat.
               Secara teknis penulisan, terdapat beberapa cara untuk membuat tulisan alay, diantaranya adalah:
a) Menulis kalimat dengan mencampuradukkan antara bahasa asing dengan bahasa Indonesia,                contohnya: "aq agy dHuMz" yang maksudnya "aku lagi di rumah"(kata Rumah menjadi Home             dalam bahasa Inggris).
b) Kata-kata bahasa Indonesia yang digunakan divariasikan hurufnya. Misalnya, yang paling umum,      mengganti huruf “k” menjadi “q” dalam kata “aku” menjadi “aqu”, huruf “t” menjadi “d” atau “dh”    seperti dalam “ingat” menjadi “ingadh”.
c) Pengulangan huruf dalam satu kata berulang-ulang tanpa pemaknaan berarti dan menambahkan         huruf lagi di belakangnya. Misalnya menulis “dalam” dengan “dalemmb” atau menulis “jalan”           dengan “jallanndt.
d) Penulisan dengan cara pencampuran huruf besar, huruf kecil, terkadang dengan angka serta                 simbol-simbol (http://educnology.web.id/fenomena/fenomena-alay-di-kalangan-generasi-muda/).
             Menurut pandangan kami, bahasa alay memang bagi sebagian orang, apalagi yang sedang dalam tahap pencarian jati diri (masa remaja) dapat diindikasikan sebagai cara mereka mengekspresikan diri mereka. Hal tersebut merupakan sebuah hal yang wajar , asalkan mereka tetap menggunakan bahasa baku yang baik dan benar saat melakukan komunikasi secara oral atau langsung, karena bahasa alay umumnya digunakan sebagai bahasa tulis. Bahasa alay merupakan salah satu cerminan remaja. Masa remaja, ditinjau dari segi perkembangan merupakan masa kehidupan manusia yang paling menarik dan mengesankan. Masa remaja mempunyai ciri antara lain petualangan, pengelompokan, dan “kenakalan” (Sumarsono, 2007: 150). Ini adalah salah satu bahasa alay yang cukup “memanjakan” mata dengan berbagai variasi huruf,angka dan simbol lainnya.


        Memang bagi sebagian orang, cara membaca tulisan alay tentu sangat mengganggu. Butuh waktu lebih lama untuk mencerna maksud sebuah kalimat dalam bahasa alay, apalagi pemenggalan atau penyingkatan yang tidak umum. Banyak juga orang yang menganggap bahasa alay mengacaukan kaidah berbahasa. Reaksi ini antara lain terlihat lewat munculnya grup antialay di facebook.
Terlepas dari mengganggu atau tidaknya bahasa alay ini, tidak ada salahnya kita menikmati tiap perubahan atau inovasi bahasa yang muncul asalkan dipakai pada situasi yang tepat. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa  penggunaan bahasa alay dapat mempersulit penggunanya untuk berbahasa Indonesia dengan baik dan benar karena di hampir selurus aktivitas baik di lembaga formal maupun informal memakai bahasa baku. Tidak mungkin jika pekerjaan rumah, ulangan atau tugas sekolah dikerjakan dengan menggunakan bahasa alay. Karena, bahasa alay tidak masuk ke dalam tatanan bahasa akademis. Begitu juga di kantor, laporan yang kita buat tidak diperkenankan menggunakan bahasa alay. Jadi, ketika situasi kita dalam situasi yang formal jangan menggunakan bahasa alay sebagai komunikasi. Selain itu, bahasa alay membutuhkan waktu pemahaman yang lama serta mata yang jeli dalam mencermati setiap kata-kata yang “unik” dari para ababil alayers ( sebutan untuk remaja alay).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar