Dalam ilmu linguistik, bahasa
dapat diuraikan sebagai salah satu cara untuk mengidentifikasi diri. Bahasa
merupakan simbol yang menunjukkan jati diri. Cara kita
berbahasa dapat menampilkan gambaran mengenai jati diri kita yang sesungguhnya.
Orang lain dapat menangkap kesan tersembunyi dari dalam diri kita masing-masing
melalui cara kita cara berbahasa. Bila kita ingin terlihat baik dalam pandangan
orang lain, maka seharusnya menggunakan bahasa yang baik. Tren kebahasaan yang
buruk, meskipun sedang populer, tidak perlu menjadi ciri utama eksistensi kita dalam
pergaulan.
Dewasa ini, tingkat penggunaan bahasa Indonesia dengan baik dan
benar pada masyarakat terutama pada kalangan remaja secara perlahan mulai mengalami
penurunan. Hal ini dikarenakan masa remaja merupakan masa transisi dan
pencarian jati diri. “Remaja memasuki tahapan psikososial yang disebut sebagai identity versus role confusion. Hal yang
dominan terjadi pada tahapan ini adalah pencarian dan pembentukan identitas.
Remaja ingin diakui sebagai individu unik yang memiliki identitas sendiri yang
terlepas dari dunia anak-anak maupun dewasa. Penggunaan bahasa baru ini merupakan bagian dari proses perkembangan
mereka sebagai identitas independensi mereka dari dunia orang dewasa dan
anak-anak” (Erikson ,1968).
Penggunaan bahasa baku pada kalangan
remaja mengalami penurunan dikarenakan adanya
modifikasi bahasa, yang sering disebut dengan ‘bahasa alay’. Bahasa alay
mulai muncul dan berkembang seiring dengan pesatnya penggunaan media komunikasi
seperti pesan singkat atau SMS dan penggunaan jejaring sosial (facebook,
twitter, dsb). Bahkan bukan hanya itu saja, bahasa alay juga banyak ditemukan
di televisi, terutama pada hal-hal yang berkaitan langsung dengan remaja,
misalnya acara-acara di televisi yang menjadi tontonan utama dan memang
ditujukan kepada para remaja. Hal tersebut membuat penyebaran bahasa alay di
kalangan remaja menjadi semakin pesat.
Secara teknis penulisan, terdapat beberapa
cara untuk membuat tulisan alay, diantaranya adalah:
a) Menulis kalimat dengan mencampuradukkan antara bahasa asing dengan bahasa
Indonesia, contohnya: "aq agy dHuMz" yang maksudnya "aku lagi di rumah"(kata Rumah menjadi Home dalam
bahasa Inggris).
b) Kata-kata bahasa Indonesia yang digunakan divariasikan hurufnya. Misalnya, yang
paling umum, mengganti huruf “k” menjadi “q” dalam kata “aku” menjadi “aqu”,
huruf “t” menjadi “d” atau “dh” seperti dalam “ingat” menjadi “ingadh”.
c) Pengulangan huruf dalam satu kata berulang-ulang tanpa pemaknaan berarti dan
menambahkan huruf lagi di belakangnya. Misalnya menulis “dalam” dengan
“dalemmb” atau menulis “jalan” dengan “jallanndt.
d) Penulisan dengan cara pencampuran huruf besar, huruf kecil, terkadang dengan
angka serta simbol-simbol (http://educnology.web.id/fenomena/fenomena-alay-di-kalangan-generasi-muda/).
Menurut pandangan kami, bahasa alay
memang bagi sebagian orang, apalagi yang sedang dalam tahap pencarian jati diri (masa
remaja) dapat diindikasikan sebagai cara mereka mengekspresikan diri mereka.
Hal tersebut merupakan sebuah hal yang wajar , asalkan mereka tetap menggunakan
bahasa baku yang baik dan benar saat melakukan komunikasi secara oral atau
langsung, karena bahasa alay umumnya digunakan sebagai bahasa tulis. Bahasa alay
merupakan salah satu cerminan remaja. Masa remaja, ditinjau dari segi
perkembangan merupakan masa kehidupan manusia yang paling menarik dan
mengesankan. Masa remaja mempunyai ciri antara lain petualangan, pengelompokan,
dan “kenakalan” (Sumarsono, 2007: 150). Ini adalah salah satu bahasa alay yang cukup
“memanjakan” mata dengan berbagai variasi huruf,angka dan simbol lainnya.
Memang bagi
sebagian orang, cara membaca tulisan alay tentu sangat mengganggu. Butuh waktu
lebih lama untuk mencerna maksud sebuah kalimat dalam bahasa alay, apalagi
pemenggalan atau penyingkatan yang tidak umum. Banyak juga orang yang
menganggap bahasa alay mengacaukan kaidah berbahasa. Reaksi ini antara lain
terlihat lewat munculnya grup antialay di facebook.
Terlepas
dari mengganggu atau tidaknya bahasa alay ini, tidak ada salahnya kita
menikmati tiap perubahan atau inovasi bahasa yang muncul asalkan dipakai pada
situasi yang tepat. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa penggunaan bahasa alay dapat mempersulit
penggunanya untuk berbahasa Indonesia dengan baik dan benar karena di hampir
selurus aktivitas baik di lembaga formal maupun informal memakai bahasa baku. Tidak
mungkin jika pekerjaan rumah, ulangan atau tugas sekolah dikerjakan dengan
menggunakan bahasa alay. Karena, bahasa alay tidak masuk ke dalam tatanan
bahasa akademis. Begitu juga di kantor, laporan yang kita buat tidak diperkenankan
menggunakan bahasa alay. Jadi, ketika situasi kita dalam situasi yang formal
jangan menggunakan bahasa alay sebagai komunikasi. Selain itu, bahasa alay membutuhkan
waktu pemahaman yang lama serta mata yang jeli dalam mencermati setiap
kata-kata yang “unik” dari para ababil alayers ( sebutan untuk remaja alay).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar