Apa itu Tari Topeng?
Tari topeng dari Cirebon,
merupakan salah satu tarian di tatar Parahyangan. Disebut tari topeng, karena
penarinya menggunakan topeng disaat menari. Tari topeng ini sendiri banyak
sekali ragamnya, dan mengalami perkembangan dalam hal gerakan, maupun cerita
yang ingin disampaikan. Terkadang tari topeng dimainkan oleh saru penari tarian
solo, atau bisa juga dimainkan oleh beberapa orang.
Topeng Cirebon
adalah simbol penciptaan semesta yang berdasarkan sistem kepercayaan Indonesia
purba dan Hindu-Budha-Majapahit. Paham kepercayaan asli, di mana pun di Indonesia,
dalam hal penciptaan, adalah emanasi. Paham emanasi ini diperkaya dengan
kepercayaan Hindu dan Budha. Paham emanasi tidak membedakan Pencipta dan
ciptaan, karena ciptaan adalah bagian atau pancaran dari Sang Hyang Tunggal.
Sejarah Tari Topeng
Tari topeng adalah salah
satu tarian tradisional yang ada di Cirebon. Tari ini dinamakan tari topeng
karena ketika beraksi sang penari memakai topeng. Konon pada awalnya, Tari
Topeng diciptakan oleh sultan Cirebon yang cukup terkenal, yaitu Sunan Gunung
Jati. Ketika Sunan Gunung Jati berkuasa di Cirebon, terjadilah serangan oleh
Pangeran Welang dari Karawang. Pangeran ini sangat sakti karena memiliki pedang
yang diberi nama Curug Sewu. Melihat kesaktian sang pangeran tersebut, Sunan
Gunung Jati tidak bisa menandinginya walaupun telah dibantu oleh Sunan Kalijaga
dan Pangeran Cakrabuana. Akhirnya sultan Cirebon memutuskan untuk melawan
kesaktian Pangeran Welang itu dengan cara diplomasi kesenian.
Berawal dari keputusan
itulah kemudian terbentuk kelompok tari, dengan Nyi Mas Gandasari sebagai
penarinya. Setelah kesenian itu terkenal, akhirnya Pangeran Welang jatuh cinta
pada penari itu, dan menyerahkan pedang Curug Sewu itu sebagai pertanda
cintanya. Bersamaan dengan penyerahan pedang itulah, akhirnya Pangeran Welang
kehilangan kesaktiannya dan kemudian menyerah pada Sunan Gunung Jati. Pangeran
itupun berjanji akan menjadi pengikut setia Sunan Gunung Jati yang ditandai
dengan bergantinya nama Pangeran Welang menjadi Pangeran Graksan. Seiring
dengan berjalannya waktu, tarian inipun kemudian lebih dikenal dengan nama Tari
Topeng dan masih berkembang hingga sekarang.
Gerakan Tari Topeng
Dalam tarian ini biasanya sang penari berganti
topeng hingga tiga kali secara simultan, yaitu topeng warna putih, kemudian biru
dan ditutup dengan topeng warna merah. Uniknya, tiap warna topeng yang
dikenakan, gamelan yang ditabuh pun semakin keras sebagai perlambang dari
karakter tokoh yang diperankan. Tarian ini diawali dengan formasi membungkuk,
formasi ini melambangkan penghormatan kepada penonton dan sekaligus pertanda
bahwa tarian akan dimulai. Setelah itu, kaki para penari digerakkan melangkah
maju-mundur yang diiringi dengan rentangan tangan dan senyuman kepada para
penontonnya. Gerakan ini kemudian dilanjutkan dengan membelakangi penonton
dengan menggoyangkan pinggulnya sambil memakai topeng berwarna putih, topeng
ini menyimbolkan bahwa pertunjukan pendahuluan sudah dimulai. Setelah
berputar-putar menggerakkan tubuhnya, kemudian para penari itu berbalik arah
membelakangi para penonton sambil mengganti topeng yang berwarna putih itu
dengan topeng berwarna biru. Proses serupa juga dilakukan ketika penari
berganti topeng yang berwarna merah. Uniknya, seiring dengan pergantian topeng
itu, alunan musik yang mengiringinya maupun gerakan sang penari juga semakin
keras. Puncak alunan musik paling keras terjadi ketika topeng warna merah
dipakai para penari.
Tentang Tari Topeng
Masing-masing warna topeng yang dikenakan
mewakili karakter tokoh yang dimainkan, sebut saja misalnya warna putih. Warna
ini melambangkan tokoh yang punya karakter lembut dan alim. Sedangkan topeng
warna biru, warna itu menggambarkan karakter sang ratu yang lincah dan anggun.
Kemudian yang terakhir, warna merah menggambarkan karakter yang berangasan (tempramental)
dan tidak sabaran. Dan busana yang dikenakan penari sendiri adalah biasanya
selalu memiliki unsur warna kuning, hijau dan merah yang terdiri dari
toka-toka, apok, kebaya, sinjang, dan ampreng.Untukdijadikanpertunjukanunsure-unsur
yang dibutuhkanadalahsatu
atau beberapa orang penari, seorang sinden, dan sepuluh orang laki-laki yang
memainkan alat musik pengiring, di antaranya rebab, kecrek, kulanter, ketuk,
gendang, gong, dan bendhe.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar